Senin, 09 Juli 2012

2:18 (Part 2)

Ca
Mayoritas orang mengetahui bahwa La Liga BBVA kurang kompetitif dikarenakan adanya dominasi duo raksasa, yaitu Barcelona dan Real Madrid. Penulis akan membeberkan sedikit argumen penulis mengenai adanya “Lingkaran Setan” dari ketidakadilan ini dari sisi finansial. Siklusnya adalah sebagai berikut:
Improving facilities

Signing best players
Developing youth system
Tickets
Owner’s investment
Commercial (Sponsorship & Merchandise)
TV Rights
Clubs
Trophies
Prize Money
 

“Lingkaran setan” ini dapat dirinci lebih lanjut pada 3 tahap, yaitu:

1.      Tahap Pendapatan 1
Klub-klub sepakbola pada umumnya memiliki 4 sumber pendapatan, yaitu tiket, komersial, hak siar TV, dan investasi pemilik. Pendapatan yang berasal dari tiket akan bergantung sekali dengan harga tiket serta kapasitas stadiun dari klub tersebut.  Kapasitas stadion tergantung dari ukuran klub tersebut, sehingga tak heran Barcelona dan Real Madrid memiliki stadion termegah di Spanyol. Selain itu, pendapatan sisi komersial berasal dari sponsorship dan merchandise. Klub-klub dengan reputasi yang mumpuni ditambah pemain-pemain kelas atas tentunya akan menaikkan pendapatan klub di segi merchandise karena adanya kecintaan fans terhadap klub tersebut. Dari sisi sponsorship, exposure dari perusahaan akan menetukan besarnya nilai kontrak sponsor yang diterima suatu klub. Terakhir, pendapatan yang berasal dari pemilik klub bukanlah pendapatan utamanya layaknya tipe-tipe pendapatan lainnya. Investasi pemilik klub bersifat optional, terlebih lagi jika ada takeover dari investor lainnya.

2.      Tahap Pengembangan Pendapatan
Setelah pendapatan utama tersebut diterima oleh klub, klub dapat menggunakan uang tersbut untuk 3 hal utama, yaitu pengembangan fasilitas, pengembangan akademi klub, dan pembelian pemain. Di La Liga, Real Madrid dan Barcelona memiliki fasilitas diatas rata-rata dibandingkan klub-klub di La Liga lainnya. Akibatnya, potensi pemaind dapat berkembang secara optimal di kedua klub tersebut. Selain itu, Barcelona dan Real Madrid juga merupakan penghasil pemain-pemain berbakat di Spanyol. Siapa tak kenal Xavi, Iniesta, Soldado? Ya, mereka adalah bintang Spanyol masa kini yang merupakan didikan akademi Barcelona maupun Real Madrid. Selanjutnya, uang yang diterima dapat digunakan membeli pemain-pemain kelas atas dari berbagai dunia. Tak heran Real Madrid dijuluki Los Galacticos, “pemain-pemain dari luar angkasa”. Yang parahnya lagi adalah banyak kedua klub ini membeli pemain-pemain potensial dari klub-klub yang kualitasnya dibawah mereka di Spanyol. Sebagai buktinya adalah David Villa. Tim kecilnya adalah Racing Santander, lalu dibeli Valencia kemudian dibeli Barcelona dengan harga mahal.

3.      Tahap perburuan trofi            
Setelah klub membelanjakan pendapatannya untuk ketiga hal yang telah dijelaskan diatas, sebuah klub pastinya mengikuti kompetisi tertentu untuk memenangkan sebuah trofi. Real Madrid dan Barcelona diketahui merupakan tim dengan raihan gelar La Liga terbanyak. Apalagi, memenangkan trofi bukan hanya mengejar gengsi pemain, pelatih, dan klub semata. Di dalam raihan trofi tersebut juga ada hadiah bonus besar yang akan diterima klub yang menjuarai kompetisi tersebut. Tentu tak heran bahwa selama bertahun-tahun Real Madrid dan Barcelona dapat mengkapitalisasi modal karena mereka berdua mendominasi perolehan trofi La Liga. Belum lagi bahwa Real Madrid dan Barcelona juga mengikuti Liga Champions terus-menerus. Hadiah bonus ini merupakan salah satu sumber pendapatan yang tak kalah besarnya karena semakin lama nilainya semakin besar.
“Lingkaran setan” ini tak akan putus karena Real Madrid dan Barcelona memiliki uang yang hampir tak terbatas untuk mengembangkan klubnya untuk terus menjadi yang terbaik di Sapnyol, atau mungkin Eropa bahkan dunia. Kondisi ini akan menjadi preseden buruk  bagi klub-klub La Liga lainnya karena mereka berkompetisi di La Liga hanya untuk mengejar “juara” 3, yaitu mengincar tempat di Liga Champions. Jadi, tak ada klub La Liga selain Real Madrid dan Barcelona yang berani memasang target juara La Liga karena terlalu perkasanya mereka sehingga terasa tak mungkin untuk dilawan.
Solusinya seperti tulisan saya yang pertama adalah penerapan sistem collective bargaining atas hak siar La Liga. Sistem ini akan membuat distribusi pendapatan lebih merata walaupun tak seutuhnya. Harapannya agar La Liga bisa lebih kompetitif yang nantinya berimbas pada tingkat ketegangan persaingan La Liga yang lebih tinggi lagi.

Kamis, 24 Mei 2012

2:18





Bulan April 2012, klub-klub Spanyol mendominasi 5 tempat dari 8 tempat pada kompetisi Eropa 2011/2012. Barcelona dan Real Madrid di Liga Champions, serta Atletico Madrid, Athletic Bilbao, dan Valencia di Liga Eropa. Banyak orang mengatakan bahwa musim 2011/2012 lalu adalah eranya Spanyol di kancah Eropa. Namun, kedigdayaan klub-klub Spanyol di Eropa menyisakan ironi pada kompetisi domestik mereka (La Liga BBVA).
Semua orang tahu bahwa La Liga BBVA didominasi oleh Barcelona dan Madrid selama puluhan tahun. Pada gelar La Liga saja, Barcelona telah mengoleksi 21 gelar, sedangkan Madrid sebanyak 32 gelar. “Pesaing” terdekat dari keduanya adalah Atletico Madrid dengan 9 gelar. Sepanjang La Liga BBVA bergulir, hanya 9 klub yang mampu menjadi juara.  Tak ayal, banyak orang tertarik menyaksikan pertandingan La Liga hanya ketika terjadi duel El Clasico semata. Hal ini dikarenakan oleh meningkatnya tensi El Clasico serta bertaburnya pemain bintang dari Barcelona maupun Real Madrid. Akibatnya, pertandingan-pertandingan La Liga diluar El Clasico tidak banyak disorot oleh penggemar sepakbola.
Selain itu, La Liga sendiri menyisakan kegetiran dari sisi finansial yang dialami oleh klub-klub La Liga BBVA. Ketidakadilan dari sisi finansial ini bisa dilihat dari segi kontrak sponsorship dan pendapatan hak siar TV. Sebagai contoh, kontrak sponsorship Bwin dengan Los Merengues senilai 25 juta Euro dan Qatar Foundation dengan Blaugrana sebesar 30 juta Euro. “Pesaing” terdekat mereka adalah Athletic Bilbao (Petronor) dan Sporting Gijon (Gijon), dimana nilai kontrak masing-masing hanyalah sebesar 2 juta Euro. Yang lebih menyedihkan lagi, terdapat 6 tim La Liga tidak memiliki sponsor (kecuali Malaga yang memberikan hibah kepada UNESCO). Tentu saja, keengganan perusahaan-perusahaan untuk bersponsor di klub-klub La Liga selain Madrid dan Barcelona sangat minim karena ketidakyakinan mereka akan exposure dari La Liga BBVA terhadap klub-klub diluar Barcelona dan Real Madrid.
Hal ini juga diperparah oleh tingginya gap pendapatan hak siar TV antara Real Madrid dan Barcelona dengan klub-klub La Liga selain keduanya. Pada musim 2010/2011, Barcelona dan Real Madrid masing-masing mendapatkan 140 juta Euro atas kontrak hak siar dengan Mediapro sebagai pemegang hak siar tunggal atas siaran La Liga BBVA. Lalu, Atletico Madrid sebsesar 42 juta Euro, Valencia 42 juta Euro, dan Sevilla 31 juta Euro. Yang terendah diperoleh oleh Real Betis sebesar 13 juta Euro saja. Penyebab utamanya ialah adanya sistem individual bargaining, di mana negosiasi nilai hak siar dilakukan secara individu oleh klub itu sendiri. Dengan sistem ini maka hanya Real Madrid dan Barca saja yang bisa “berbicara”, selain karena melimpahnya pemain bintang di dalam skuad, mereka juga memiliki stadion yang besar dan sponsor yang mendanai dengan uang melimpah. Jadi, wajar saja jika individual bargaining dimenangkan oleh mereka.
Sistem yang berbeda diterapkan oleh BPL misalnya. BPL menganut sistem collective bargaining, dimana nilai hak siar ditentukan oleh posisi klub di klasmen BPL ditambah adanya intervensi pengurus liga dalam menentukan nominal nilai tiap posisi. Dengan sistem ini, gap finansial dari segi hak siar menjadi tidak terlalu besar sehingga kompetisi BPL lebih menarik dari La Liga BBVA.
Mengutip pernyataan Presiden Sevilla Del Nido bahwa ia mendeskripsikan La Liga BBVA sebagai “muatan sampah terbesar di dunia”. Tentu saja ini merupakan kegelisahan klub-klub BBVA atas ketidakmerataan La Liga, baik dari sisi kompetisi maupun finansial. Namun, permasalahan ini dapat diselesaikan dengan memeratakan pendapatan dari sisi hak siar. RFEF selaku pengelola La Liga sebaiknya menerapkan sistem collective bargaining pada nilai hak siar. Sistem ini telah terbukti sukses di BPL selama bertahun-tahun. Musim 2010/2011 saja, MU membukukan hak siar sebesar 60 juta Euro. Sedangkan Blackburn yang paling rendah membukukan 39 juta Euro. dengan diterapkannya sistem collective bargaining, akan tercipta kompetisi La Liga BBVA yang lebih kompetitif dan finansial yang lebih sehat.