Mayoritas
orang mengetahui bahwa La Liga BBVA kurang kompetitif dikarenakan adanya
dominasi duo raksasa, yaitu Barcelona dan Real Madrid. Penulis akan membeberkan
sedikit argumen penulis mengenai adanya “Lingkaran Setan” dari ketidakadilan
ini dari sisi finansial. Siklusnya adalah sebagai berikut:
Improving facilities
|
Signing best players
|
Developing youth system
|
Tickets
|
Owner’s investment
|
Commercial (Sponsorship & Merchandise)
|
TV Rights
|
Clubs
|
Trophies
|
Prize Money
|
1. Tahap
Pendapatan 1
Klub-klub sepakbola pada umumnya memiliki 4 sumber
pendapatan, yaitu tiket, komersial, hak siar TV, dan investasi pemilik.
Pendapatan yang berasal dari tiket akan bergantung sekali dengan harga tiket
serta kapasitas stadiun dari klub tersebut. Kapasitas stadion tergantung dari ukuran klub
tersebut, sehingga tak heran Barcelona dan Real Madrid memiliki stadion
termegah di Spanyol. Selain itu, pendapatan sisi komersial berasal dari
sponsorship dan merchandise. Klub-klub dengan reputasi yang mumpuni ditambah
pemain-pemain kelas atas tentunya akan menaikkan pendapatan klub di segi
merchandise karena adanya kecintaan fans terhadap klub tersebut. Dari sisi
sponsorship, exposure dari perusahaan akan menetukan besarnya nilai kontrak
sponsor yang diterima suatu klub. Terakhir, pendapatan yang berasal dari pemilik
klub bukanlah pendapatan utamanya layaknya tipe-tipe pendapatan lainnya.
Investasi pemilik klub bersifat optional, terlebih lagi jika ada takeover dari
investor lainnya.
2. Tahap
Pengembangan Pendapatan
Setelah pendapatan utama tersebut diterima oleh klub, klub
dapat menggunakan uang tersbut untuk 3 hal utama, yaitu pengembangan fasilitas,
pengembangan akademi klub, dan pembelian pemain. Di La Liga, Real Madrid dan
Barcelona memiliki fasilitas diatas rata-rata dibandingkan klub-klub di La Liga
lainnya. Akibatnya, potensi pemaind dapat berkembang secara optimal di kedua
klub tersebut. Selain itu, Barcelona dan Real Madrid juga merupakan penghasil
pemain-pemain berbakat di Spanyol. Siapa tak kenal Xavi, Iniesta, Soldado? Ya,
mereka adalah bintang Spanyol masa kini yang merupakan didikan akademi
Barcelona maupun Real Madrid. Selanjutnya, uang yang diterima dapat digunakan
membeli pemain-pemain kelas atas dari berbagai dunia. Tak heran Real Madrid
dijuluki Los Galacticos, “pemain-pemain dari luar angkasa”. Yang parahnya lagi
adalah banyak kedua klub ini membeli pemain-pemain potensial dari klub-klub
yang kualitasnya dibawah mereka di Spanyol. Sebagai buktinya adalah David
Villa. Tim kecilnya adalah Racing Santander, lalu dibeli Valencia kemudian
dibeli Barcelona dengan harga mahal.
3. Tahap
perburuan trofi
Setelah klub membelanjakan pendapatannya untuk ketiga hal
yang telah dijelaskan diatas, sebuah klub pastinya mengikuti kompetisi tertentu
untuk memenangkan sebuah trofi. Real Madrid dan Barcelona diketahui merupakan
tim dengan raihan gelar La Liga terbanyak. Apalagi, memenangkan trofi bukan
hanya mengejar gengsi pemain, pelatih, dan klub semata. Di dalam raihan trofi
tersebut juga ada hadiah bonus besar yang akan diterima klub yang menjuarai
kompetisi tersebut. Tentu tak heran bahwa selama bertahun-tahun Real Madrid dan
Barcelona dapat mengkapitalisasi modal karena mereka berdua mendominasi
perolehan trofi La Liga. Belum lagi bahwa Real Madrid dan Barcelona juga
mengikuti Liga Champions terus-menerus. Hadiah bonus ini merupakan salah satu
sumber pendapatan yang tak kalah besarnya karena semakin lama nilainya semakin
besar.
“Lingkaran setan” ini tak akan putus karena Real
Madrid dan Barcelona memiliki uang yang hampir tak terbatas untuk mengembangkan
klubnya untuk terus menjadi yang terbaik di Sapnyol, atau mungkin Eropa bahkan
dunia. Kondisi ini akan menjadi preseden buruk
bagi klub-klub La Liga lainnya karena mereka berkompetisi di La Liga
hanya untuk mengejar “juara” 3, yaitu mengincar tempat di Liga Champions. Jadi,
tak ada klub La Liga selain Real Madrid dan Barcelona yang berani memasang
target juara La Liga karena terlalu perkasanya mereka sehingga terasa tak
mungkin untuk dilawan.
Solusinya seperti tulisan saya yang pertama adalah
penerapan sistem collective bargaining
atas hak siar La Liga. Sistem ini akan membuat distribusi pendapatan lebih
merata walaupun tak seutuhnya. Harapannya agar La Liga bisa lebih kompetitif
yang nantinya berimbas pada tingkat ketegangan persaingan La Liga yang lebih
tinggi lagi.

