Kamis, 24 Mei 2012

2:18





Bulan April 2012, klub-klub Spanyol mendominasi 5 tempat dari 8 tempat pada kompetisi Eropa 2011/2012. Barcelona dan Real Madrid di Liga Champions, serta Atletico Madrid, Athletic Bilbao, dan Valencia di Liga Eropa. Banyak orang mengatakan bahwa musim 2011/2012 lalu adalah eranya Spanyol di kancah Eropa. Namun, kedigdayaan klub-klub Spanyol di Eropa menyisakan ironi pada kompetisi domestik mereka (La Liga BBVA).
Semua orang tahu bahwa La Liga BBVA didominasi oleh Barcelona dan Madrid selama puluhan tahun. Pada gelar La Liga saja, Barcelona telah mengoleksi 21 gelar, sedangkan Madrid sebanyak 32 gelar. “Pesaing” terdekat dari keduanya adalah Atletico Madrid dengan 9 gelar. Sepanjang La Liga BBVA bergulir, hanya 9 klub yang mampu menjadi juara.  Tak ayal, banyak orang tertarik menyaksikan pertandingan La Liga hanya ketika terjadi duel El Clasico semata. Hal ini dikarenakan oleh meningkatnya tensi El Clasico serta bertaburnya pemain bintang dari Barcelona maupun Real Madrid. Akibatnya, pertandingan-pertandingan La Liga diluar El Clasico tidak banyak disorot oleh penggemar sepakbola.
Selain itu, La Liga sendiri menyisakan kegetiran dari sisi finansial yang dialami oleh klub-klub La Liga BBVA. Ketidakadilan dari sisi finansial ini bisa dilihat dari segi kontrak sponsorship dan pendapatan hak siar TV. Sebagai contoh, kontrak sponsorship Bwin dengan Los Merengues senilai 25 juta Euro dan Qatar Foundation dengan Blaugrana sebesar 30 juta Euro. “Pesaing” terdekat mereka adalah Athletic Bilbao (Petronor) dan Sporting Gijon (Gijon), dimana nilai kontrak masing-masing hanyalah sebesar 2 juta Euro. Yang lebih menyedihkan lagi, terdapat 6 tim La Liga tidak memiliki sponsor (kecuali Malaga yang memberikan hibah kepada UNESCO). Tentu saja, keengganan perusahaan-perusahaan untuk bersponsor di klub-klub La Liga selain Madrid dan Barcelona sangat minim karena ketidakyakinan mereka akan exposure dari La Liga BBVA terhadap klub-klub diluar Barcelona dan Real Madrid.
Hal ini juga diperparah oleh tingginya gap pendapatan hak siar TV antara Real Madrid dan Barcelona dengan klub-klub La Liga selain keduanya. Pada musim 2010/2011, Barcelona dan Real Madrid masing-masing mendapatkan 140 juta Euro atas kontrak hak siar dengan Mediapro sebagai pemegang hak siar tunggal atas siaran La Liga BBVA. Lalu, Atletico Madrid sebsesar 42 juta Euro, Valencia 42 juta Euro, dan Sevilla 31 juta Euro. Yang terendah diperoleh oleh Real Betis sebesar 13 juta Euro saja. Penyebab utamanya ialah adanya sistem individual bargaining, di mana negosiasi nilai hak siar dilakukan secara individu oleh klub itu sendiri. Dengan sistem ini maka hanya Real Madrid dan Barca saja yang bisa “berbicara”, selain karena melimpahnya pemain bintang di dalam skuad, mereka juga memiliki stadion yang besar dan sponsor yang mendanai dengan uang melimpah. Jadi, wajar saja jika individual bargaining dimenangkan oleh mereka.
Sistem yang berbeda diterapkan oleh BPL misalnya. BPL menganut sistem collective bargaining, dimana nilai hak siar ditentukan oleh posisi klub di klasmen BPL ditambah adanya intervensi pengurus liga dalam menentukan nominal nilai tiap posisi. Dengan sistem ini, gap finansial dari segi hak siar menjadi tidak terlalu besar sehingga kompetisi BPL lebih menarik dari La Liga BBVA.
Mengutip pernyataan Presiden Sevilla Del Nido bahwa ia mendeskripsikan La Liga BBVA sebagai “muatan sampah terbesar di dunia”. Tentu saja ini merupakan kegelisahan klub-klub BBVA atas ketidakmerataan La Liga, baik dari sisi kompetisi maupun finansial. Namun, permasalahan ini dapat diselesaikan dengan memeratakan pendapatan dari sisi hak siar. RFEF selaku pengelola La Liga sebaiknya menerapkan sistem collective bargaining pada nilai hak siar. Sistem ini telah terbukti sukses di BPL selama bertahun-tahun. Musim 2010/2011 saja, MU membukukan hak siar sebesar 60 juta Euro. Sedangkan Blackburn yang paling rendah membukukan 39 juta Euro. dengan diterapkannya sistem collective bargaining, akan tercipta kompetisi La Liga BBVA yang lebih kompetitif dan finansial yang lebih sehat.