Bulan
April 2012, klub-klub Spanyol mendominasi 5 tempat dari 8 tempat pada kompetisi
Eropa 2011/2012. Barcelona dan Real Madrid di Liga Champions, serta Atletico
Madrid, Athletic Bilbao, dan Valencia di Liga Eropa. Banyak orang mengatakan
bahwa musim 2011/2012 lalu adalah eranya Spanyol di kancah Eropa. Namun,
kedigdayaan klub-klub Spanyol di Eropa menyisakan ironi pada kompetisi domestik
mereka (La Liga BBVA).
Semua
orang tahu bahwa La Liga BBVA didominasi oleh Barcelona dan Madrid selama puluhan
tahun. Pada gelar La Liga saja, Barcelona telah mengoleksi 21 gelar, sedangkan
Madrid sebanyak 32 gelar. “Pesaing” terdekat dari keduanya adalah Atletico
Madrid dengan 9 gelar. Sepanjang La Liga BBVA bergulir, hanya 9 klub yang mampu
menjadi juara. Tak ayal, banyak orang
tertarik menyaksikan pertandingan La Liga hanya ketika terjadi duel El Clasico semata. Hal ini dikarenakan
oleh meningkatnya tensi El Clasico
serta bertaburnya pemain bintang dari Barcelona maupun Real Madrid. Akibatnya,
pertandingan-pertandingan La Liga diluar El Clasico tidak banyak disorot oleh
penggemar sepakbola.
Selain
itu, La Liga sendiri menyisakan kegetiran dari sisi finansial yang dialami oleh
klub-klub La Liga BBVA. Ketidakadilan dari sisi finansial ini bisa dilihat dari
segi kontrak sponsorship dan pendapatan hak siar TV. Sebagai contoh, kontrak
sponsorship Bwin dengan Los Merengues
senilai 25 juta Euro dan Qatar Foundation dengan Blaugrana sebesar 30 juta Euro. “Pesaing” terdekat mereka adalah
Athletic Bilbao (Petronor) dan Sporting Gijon (Gijon), dimana nilai kontrak
masing-masing hanyalah sebesar 2 juta Euro. Yang lebih menyedihkan lagi,
terdapat 6 tim La Liga tidak memiliki sponsor (kecuali Malaga yang memberikan
hibah kepada UNESCO). Tentu saja, keengganan perusahaan-perusahaan untuk
bersponsor di klub-klub La Liga selain Madrid dan Barcelona sangat minim karena
ketidakyakinan mereka akan exposure
dari La Liga BBVA terhadap klub-klub diluar Barcelona dan Real Madrid.
Hal
ini juga diperparah oleh tingginya gap
pendapatan hak siar TV antara Real Madrid dan Barcelona dengan klub-klub La
Liga selain keduanya. Pada musim 2010/2011, Barcelona dan Real Madrid
masing-masing mendapatkan 140 juta Euro atas kontrak hak siar dengan Mediapro
sebagai pemegang hak siar tunggal atas siaran La Liga BBVA. Lalu, Atletico
Madrid sebsesar 42 juta Euro, Valencia 42 juta Euro, dan Sevilla 31 juta Euro.
Yang terendah diperoleh oleh Real Betis sebesar 13 juta Euro saja. Penyebab
utamanya ialah adanya sistem individual
bargaining, di mana negosiasi nilai hak siar dilakukan secara individu oleh
klub itu sendiri. Dengan sistem ini maka hanya Real Madrid dan Barca saja yang
bisa “berbicara”, selain karena melimpahnya pemain bintang di dalam skuad,
mereka juga memiliki stadion yang besar dan sponsor yang mendanai dengan uang
melimpah. Jadi, wajar saja jika individual bargaining dimenangkan oleh mereka.
Sistem
yang berbeda diterapkan oleh BPL misalnya. BPL menganut sistem collective bargaining, dimana nilai hak
siar ditentukan oleh posisi klub di klasmen BPL ditambah adanya intervensi
pengurus liga dalam menentukan nominal nilai tiap posisi. Dengan sistem ini,
gap finansial dari segi hak siar menjadi tidak terlalu besar sehingga kompetisi
BPL lebih menarik dari La Liga BBVA.
Mengutip
pernyataan Presiden Sevilla Del Nido bahwa ia mendeskripsikan La Liga BBVA sebagai
“muatan sampah terbesar di dunia”. Tentu saja ini merupakan kegelisahan
klub-klub BBVA atas ketidakmerataan La Liga, baik dari sisi kompetisi maupun
finansial. Namun, permasalahan ini dapat diselesaikan dengan memeratakan
pendapatan dari sisi hak siar. RFEF selaku pengelola La Liga sebaiknya menerapkan
sistem collective bargaining pada nilai hak siar. Sistem ini telah terbukti
sukses di BPL selama bertahun-tahun. Musim 2010/2011 saja, MU membukukan hak
siar sebesar 60 juta Euro. Sedangkan Blackburn yang paling rendah membukukan 39
juta Euro. dengan diterapkannya sistem collective
bargaining, akan tercipta kompetisi La Liga BBVA yang lebih kompetitif dan
finansial yang lebih sehat.
